Gila kok Berjamaah?
www.miftah17.wordpress.com
Sudah satu minggu lebih Salam tidak bergairah. Untuk kerja dia tidak seperti biasanya. Dia tidak begiru bersemangat menerima order kerja yang sebetulnya bisa menolong dia untuk tersenyum menghadapi awa bulan depan ketika ibu kos menjambanginya, yang tentunya bukan untuk bersilaturahim dan ngobrol-ngobrol.
Perutnya tidak pernah menagih jatah, dan mulutnya menolak setiap Salam menjejalkan makanan. Nasi terasa basi, soto kelihatan seperti kroto, rendang bikin dia meradang, daging malah bikin dia merinding. Singkat kata, apapun tidak terasa enak di lidah, dan terasa mual di perut.
Di meja kamarnya teronggok sisa makanan dua hari yang lalu. Itu terahir dia makan di kamar kosnya. Setengah piring nasi hanya di santap dua sendok. Itu pun setelah berusaha sekuat tenaga. Bau tak enak sudah mulai keluar dari nasi dengan kuah yang mulai agak mengering itu. Sedangkan kemarin dia sama sekali tidak makan nasi.
Sepulang kelayapan dia mampir di warung dan membeli roti murahan sekedar untuk mengganjal perutnya yang sering kena mag. Lumayan setengahnya dia kunyah dan sampi di ususnya. Setengah lagi melayang dan mampir di tong sampah depan kamar kos nya.
Pakaian, yang tentunya bekas pakai dan kadang ada yang sudah dipakai lebih dari sekali, bergentayangan menyangkut di paku-paku yang ditancapkan di dinding kamar. Indah sekali bak di dalam gubuk yang biasa kita lihat di pinggir-pinggir kali dan rel kereta api.
Sebagian teronggok di sudut kamar di samping meja tempat dia menulis yang di sediakan oleh ibu kos. Atau lebih seringnya dia duduk terpaku di depan meja tanpa melakukan apa-apa. Maksud ku dia termenung atau lebih tepatnya bermimpi.
Buku-buku bekas dia baca, atau kadang hanya untuk dibuka-buka dan dibolak-balik saja, tercecer di atas meja satu-satunya itu, menemani seongngok nasi basi di dalam piring, sebagian buku-buku itu masih terbuka. Nampak nya dia lupa atau bahkan malas untuk sekedar menutupnya.
Sebagian lainnya terdampar di atas tempa tidur setalah menemani Salim yang mendadak punya masalah insomnia ahir-ahir ini. Buku-buku itu melengkapi sprei yang entah kapan terahir dicuci dan dibiarkan pula acak-acakan.
Guling yang tak bedosa merana di lantai yang belum sempat disapu dan si bantal yang jelas tidak wangi itu terjuntai hampir jatuh kelantai di bagian belakang kasur tempat tidur Salam.
Kekacauan tidak sampai di situ. Sepasang sepatu bekas pakai tadi siang terdampar tak beraturan dekat pintu masuh. Kaus kaki, yang untungnya tidak kelihatan kotor karena warnanya gelap, terjejal di dalam sepatu kanan. Dan yang satunya lagi terjengkang sekitar setangah dari sarangnya, sepatu satunya lagi.
Sebuah gambaran ketidaksempurnaan yang sempurna. Apa yang sedang terjadi dengan Salam? Apa dia terlilit hutang dan tak bisa bayar sehingga menjadi stress? Tidak.
Apa perusahaannya bangkrut? Jangankan perusahaan, selama ini dia mendatangi perusahaan ke perusahaan hanya untuk megais rejeki sekedarnya.
Atau jangan-jangan, dia gila? Benar sejak kurang lebih dua bulan yang lalu dia menjadi gila.
Gila? Ya, gila. Aku akan terkejut kalau anda terkejut. Makanya, tidak usah terkejut. Kata gila adalah kosa kata yang tidak asing ditelinga kita. Salam bukan satu-satunya. Dia hanya satu dari ribuan atau mungkin jutaan orang gila di planet ini, di negeri ini, atau di kota ini. Saking banyak nya orang gila di republik ini, ada kemungkinan anda adalah salah satunya. Atau mungkin aku! Tidak percaya? Percayalah!
……………….
Coba sekali-sekali perhatikan para konpeni (baca: kapitalis) di negeri ini. Mereka mengekploitasi para romusha (baca: buruh) tak ada habis-habisnya. Para kompeni sudah lama menguras tenaganya, mempersempit waktunya untuk diri sendiri, menggaji mereka jauh dari kelayakan, menunggk pula membayar gaji mereka. Konon ada yang berbulan-bulan. Edan! Eh…Gila!
Ada apa? Perusahaan tidak punya dana, order menurun, resesi ekonomi. Itu lah yang meraka katakan kalau ditanya, ”Kenapa?”. Dan masih ada ribuan alasan lainnya yang mereka bisa lafalkan dengan fasih tanpa cacat sedikit pun ketika mereka mengucapkannya.
Para kompeni itu bukannya tidak peduli dengan nasib romushanya, tapi apa daya mereka pun punya masalah sendiri. Para romusha itu mana mengerti susah nya menjadi kompeni. Bagaimana susahnya mereka menciptakan ladang-ladang (baca: lapangan kerja), yang tentunya untuk kepentingan para romusha.
Di tambah lagi mereka harus mengurus diri sendiri untuk keperluan sandang mereka. Kalo para romusha dengan mudah pergi ke pasar loak atau yang lebih elit, Tanah Abang, untuk keperluan sandang mereka, para kompeni setidaknya harus pergi ke singapura untuk memenuhi kebutukan yang sama. Bukannya tidak mau memakai pakaian in-lander (baca: dalam negri), tapi memang mereka diciptakan berbeda dengan para romusha. Pakaian in-lander membuat kulit mereka gatal-galal, bahkan ada yang memerah dan membengkak setelah memekai pakaian in-lander.
Belum lagi kalau waktunya ada pesta orang penggede, baju mereka harus special pake telor. Jangan sampai memalukan di depan orang penggede.Untuk mandapatkan pakaian spesial pake telor itu mungkin mereka harus sampai pergi ke AC Milan negerinya tukang spageti.
Atau ketika musim liburan tiba. Mana bisa mereka cuma bertadang ke rumah Si Amang di Ragunan. Atau ke Taman Mini yang sebetulnya tidak mini itu. Itu kan tempat-tempat liburannya para romusha!
Bersilaturahmi dengan Kang Guru (baca:Ausie) atau jalan-jalan di jalan Braga nya Francis (baca: Paris) itu baru tempat liburannya para kompeni. Dengan begitu mereka juga bisa sekalian belanja minyak wangi dan perhiasan atau asesoris buatan luar negeri, gitu loh!. Lumayan kan untuk nampang!
Belum lagi untuk sekolah anak-anak mereka. Mereka harus makan bangku sekolah yang terbuat dari kayu jati Eropa atau setidak nya kayu ekaliptus-nya negri Kang Guru (baca: Australia).
Tidak seperti anah-anak para romusha, mereka di beri bangku sekolah dari bekas kas gula atau telur saja sudah lebih dari cukup. Lha wong mereka itu cuma rayap. Jadi para kompeni harus membantu anak-anak mereka dari mulai berhubungan dengan biro penyedia layanan bagi orang yang mau belejar di negeri orang sampai mempersiapkan tempat tinggal di tempat mereka sekolah.
Tidak ada salahnya kok menyekolahkan anak-anak kompeni itu ke Eropa atau negeri Kang Guru. Nanti juga kalo mereka perutnya sudah penuh dengan serbuk kayu jati eropa dan ekaliptus, kan yang untung para romusha dan rayap-rayap (baca: anak-anak para buruh) nya juga.
Kok Bisa? Ya bisa, lah! Kelak yang bisa menyediakan ladang-ladang bagi mereka siapa? Yang bisa menyediakan gubu-gubuk (baca: Rumah sangat sederhana sekali) siapa? Para kompeni dan anak-anaknya kan?
“Jadi kalau dua tigu bulan, atau bahkan enam bulan gaji belum dibayar para romusha itu harus mengerti. Jangan karena hal kecil gitu aja protes, unjuk rasa. Itu tindakan yang tidak dewasa., ” kata seorang kompeni pada satu kesempatan.
“Naaaaaah, ngerti kan sekarang? Ternyata para kompeni melekukan semua yang selama ini banyak dicemburui si sosial itu ternyata untuk orang banyak juga”, Dia manambahkan.
Para romusha Cuma bisa mengangguk-ngangguk saja tanpa pernah bisa mengerti. GILA! Siapa yang gila? Ya kompeninya, ya romushanya!
………………………….
Bagaimana pula dengan para pamomg praja (baca:orang-orang pemerintah) dan raja dan pembantunya? juga para wakil wakil wong cilik. Di antara mereka pun ada yang tidak kalah gilanya dari para kompeni dan para romusha.
Coba arahkan pandangan kita pada mulut-mulut mereka sebelum mereka menduduki bangku-bangku empuk mereka.
Ya, benar, mulut-mulut mereka berlumuran madu, gula merah, dan gula pasir. Saking banyaknya, dan karena bercampur dengan air liur mereka yang mendidih, sampai meleleh ke leher, dagu, perut, dan bahkan bawah perut mereka.
Tapi adakah yang bisa melihat tetesan bisa ular mereka yang keluar dari dua taring mereka. Tidak! Kenapa? Karena mereka menahan diri untuk tidak menyeringai. Mereka hanya melakukan satu hal dengan mulutnya, tersenyum, dan menaburi nya dengan madu, gula pasir, dan gula merah.
Perhatikan pula kedua tangan mereka. Beraneka buah-buahan bergelayut di kedua tangan mereka. Ada rambutan, mangga, pisang, jambu, dan kawan-kawannya. Persis seperti di Pasar Minggu. Benar-benar mengundang selera orang yang kehausan dan kepanasan.
Asiknya lagi, siapa pun boleh mengambil buah-buahan itu dan memakannya sampai puas. Jangan takut kehabisan, masih akan tumbuh lagi begitu buah-buahan nya hampir habis.
Tapi apa ada yang tahu bahwa sebagian buah-buahan itu ternyata beracun ganas? Tidak ada. Setiap orang yang menyantapnya tidak merasakan apa-apa.
Ingin membuktikan bisa ular dan buah-buahan beracun mereka? Tunggu sampai mereka duduk di bangku-bangku empuk mereka. Ketika waktu itu datang mereka akan menjelma menjadi mahluk besar dan menakutkan. Betapa tidak. Berkepala ular, berbadan babi, dan berekor kalejengking.
Dan tentu saja keadaan ini sangat berbahaya karena tidak ada lagi madu dan gula dari mulut mereka. Yang ada hanyalah bisa yang memetikan. Tidak ada lagi buah-buah segar yang ditawarkan. Yang tersisa hanyalah racun ganas yang bisa mambuat binasa.
Apa itu tidak gila? Tidak, itu SANGAT GILA! Bagaimana dengan rakyat negeri ini? Apa mereka terhindarkan dari keGILAan ini? Mereka, termasuk kita juga, termasuk orang gila kalau tidak menyadari kegilaan-kegilaan yang telah, sedang, dan akan terjadi ini.
………………………….
Ahir-ahir ini sebuah peristiwa gempa menguncang sebuah kota kecil di Sidoarjo, Jawa Timur. Guncangannya merambat ke kota-kota sekitarnya, bahkan sampai meliputi seantero bumi nusantara tercinta ini.
Menurut berita yang dibawa si Konon, orang-orang dari negeri jiran pun banyak yang merasakan getarannya, bahkan ada yang terguncang. Dahsyat bener tuh gempa yah!
Berapa skala richter kah kekuatannya. Entah lah, yang jelas gempa berkekuatan delapan skala richter saja bisa meluluh lantakan beberapa kota. Kalau yang di sidoarjo dampaknya super dahsyat sekali. Mungkin 20, 30, atau 70 skalah richter lah paling tidak. Mulai ngaco lagi, deh! Gila!
Ya lagi-lagi gila. Dengan adanya guncangan maha hebat ini, orang-orang bukannya mendatangi pos pengungsian dan minta sumbangan, tapi meraka malah mendatangi sumber gempa.
Tidak kurang, setidaknya, ratausan, ribuan, malah mungkin ratusan ribu, kalau tidak jutaan, orang berbondong-bondong manjambangi episentrum gempa ”sekedar” untuk ngalap air keramat yang keluar dari sember gempa. Kata si konon, air itu bisa menyembuhkan stroke, jatungan, panu, kadas, kurap, cacingan, dan berbagai macan penyakit lainnya yang biasa mendatangi orang tanpa permisi dan tidak pilih bulu.
Apa khasiatnya sudah terbukti? Lagi-lagi menurut cerita si konon, mereka yang pernah mencoba ada yang mengaku sembuh, tapi ada pula yang tidak, bahkan penyakitnya bertambah parah sampai-sampai harus digotong ke Tabib. Dan sebagian lainnya mengaku tidak ad hasiat apa-apa tuh air. Nggak ngaruh tuh!
Kegilaan lain dari gempa ini adalah beberapa orang sudah menjadi wadal alias dijemput Malaikat Izroil. Apakah adanya wadal mencegah orang-orang meluruk sumber gempa? Tidak tuh! Malah menurut laporan si konon antrian semakin panjang hampir menyentuh perbatasan kota tetangga.
Banyak orang yang menjadi korban (baca: gila) karena gempa ini. Mulai dari pemangku pamong praja, yuang sebagian memang kadung gila, polisi kota praja, dan penduduk di sekitar pusat peristiwa, dan tentunya orang-orang yang susah payah dan mengabaikan pemikiran warasnya mendatangi sumber gempa untuk mendapatkan air keramat.
Mereka yang sempat ke sana tapi tidak sempat mendapatkan air keramat juga jadi gila. Sampeyan yang nyesel karena tidak sempat atau tidak bisa kesana tapi sebenarnya berharap mendapatlkan air ajaib itu juga termasuk gila. Kayaknya aku pun gila karena menulis hal gila ini. Gila!
Bagaimana pula dengan Po’Nori? Apa dia termasuk orang gila? Walau pun ulah nya kadang-kadang gila, tapi dia satu-satunya yang bisa dipastikan yang paling waras. Dia tidak salah apa-apa kok! Siapa suruh orang-orang itu berbondong-bondong ke Sidoarjo Cuma untuk mendapat kan air keramat atau air ajaib?
Po’Nori tenang-tenang saja, toh! Dia asik saja ngelawak sama Malih Tong-tong dan Bolot. Bahkan dia sedang merintis usaha baru yang tidak ada kaitannya dengan ngelawak dan ngebodor. Dia, bekerja sama dengan sebuah produsen pangan nasional, memprodusi air minum mineral bermerek Po’Nori Sweat. Tentu saja dia mendapat kan kontrak dan royalty yang tidak Cuma satu dua rupiah saja. Dia sangat waras, toh?
Tapi yang lebih hebat (baca: gila) nya, setelah fenomena air keramat sidoarjo, bermunculan lah gempa-gempa baru serupa, walau pun dampak nya tidah sedahsyat gempa bumu sidoarjo.
Ada ubin panas, kerikil jalan ajaib, dukun wanita cilik ghoib, dan teman temannya. Sampai-sampai si Temon temen nya si Andel sempat mengaku-ngaku mampu mengobati segala jenis penyakit hanya dengan air yang dicelupi batu bekas bangun rumah tetangganya. BBG, alias Benar Benar Gila!
…………………………..
Benar! Aku semakin yakin kalau aku sudah gila, sampai-sampai ngelantur hampir kehilangan jalan cerita. Mari kita kembali ke jalan yang benar, cerita tentang Salam.
Apa gerangan yang telah membuatnya gila? Maaf, pertanyaannya kurang tepat. Siapa gerangan yang telah membuat salam gila?
Tini. Dia telah menyentet salam sehingga dia menjadi gila. Tini? Apa dia seorang dukun santet?
Jangan sembarangan. Dia mempu menyantet salam, walau pun tidak sengaja, karena dia cantik, pintar, lemah lembut, dan yang paling penting, senyumannya aduhai.
Gila! Apa para pembaca yakin belum merasa gila? Jadi bagaimana dia bisa manyantet salam. Jadi, dengan kelebihan yang dimilikinya itu, Tini mampu menyantet cinta salam. Dan salah Salam sendiri kenapa dia mau disantet cinta oleh Tini. ”Oooooooh…. Jadi dia disantet cinta”, kata si Adul sambih manggut-manggut. ”Uhuuuuuy….!”, kata Si Komeng.
Jadi sebetulnya masalah ini solusinya gampang saja, toh. Solusi itu apa sih? Apa sama dengan polisi? Semakin ngaco saja!
Sebagai penyantet salam dengan cintanya, Tini harus bertanggung jawab. Dia harus bersedia balik disantet salim. Maunya sih begitu. Tapi masalahnya, selain menyantet salim. Tini juga sudah duluan menyantet Rahman. Dan mereka sudah saling menyentet cinta. Walaupun kadang Tini merasa bahwa santetanRahman tidak membuat dia nyaman, tapi agak susah juga dia melepaskan santetan cintanya.
Tidak jarang pula Tini berfikir untuk membiarkan dirinya disantet cintanya salam. Sebetulnya, belum disantet saja Tini merasa nyaman kalo lagi berduaan sama Salam. Tapi kalo dia berfikir lagi, kayaknya tidak mungkin satu perawan di santet cinta dua perjaka.
Jadi bagaimana? Sekuat tenaga Tini sudah mencoba untuk melepas santetan Rahman agar bisa membiarkan salam menyantet dia. Tapi semakin kuat Tini berusaha semakin kuat pula Rahman mengirim energi santet cintanya untuk Tini. Alhasil tidak ada hasil nya usaha Tini. Maka Salam lah yang jadi korban, dan menjadi gila.
Dia belum punya kesempatan merealisasikan impiannya untuk benar-benar menyantet Tini dengan cintanya. Salam tidak sendirian dalam menjadi orang gila. Tini pun sebenarnya sudah gila karena sudah tak tahan lagi dengan Rahman, dan mendambakan santetan salam.
Bagaimana dengan Rahman? Untuk jaka yang satu ini aku tak dapat informasi apa-apa karena suaranya nyaris tak terdengar! Aku hanya bisa menduga duga kalau dia juga gila karena Tini berani-beraninya menyantet lelakilain dengan cintanya, padahal dia sudah nyantet dirinya dan pernah bilang kalau dia rela di santen sama Toni.Rahman. Namanya juga dunia gila, ya orang-orang nya juga harus gila.
………………………………………………………………………………….
TTD
POGI (Paguyuban Orang-orang Gila Indonesia)