Orang Gila

Gila kok Berjamaah?

www.miftah17.wordpress.com

Sudah satu minggu lebih Salam tidak bergairah. Untuk kerja dia tidak seperti biasanya. Dia tidak begiru bersemangat menerima order kerja yang sebetulnya bisa menolong dia untuk tersenyum menghadapi awa bulan depan ketika ibu kos menjambanginya, yang tentunya bukan untuk bersilaturahim dan ngobrol-ngobrol.

Perutnya tidak pernah menagih jatah, dan mulutnya menolak setiap Salam menjejalkan makanan. Nasi terasa basi, soto kelihatan seperti kroto, rendang bikin dia meradang, daging malah bikin dia merinding. Singkat kata, apapun tidak terasa enak di lidah, dan terasa mual di perut.

Di meja kamarnya teronggok sisa makanan dua hari yang lalu. Itu terahir dia makan di kamar kosnya. Setengah piring nasi hanya di santap dua sendok. Itu pun setelah berusaha sekuat tenaga. Bau tak enak sudah mulai keluar dari nasi dengan kuah yang mulai agak mengering itu. Sedangkan kemarin dia sama sekali tidak makan nasi.

Sepulang kelayapan dia mampir di warung dan membeli roti murahan sekedar untuk mengganjal perutnya yang sering kena mag. Lumayan setengahnya dia kunyah dan sampi di ususnya. Setengah lagi melayang dan mampir di tong sampah depan kamar kos nya.

Pakaian, yang tentunya bekas pakai dan kadang ada yang sudah dipakai lebih dari sekali, bergentayangan  menyangkut di paku-paku yang ditancapkan di dinding kamar. Indah sekali bak di dalam gubuk yang biasa kita lihat di pinggir-pinggir kali dan rel kereta api.

Sebagian teronggok di sudut kamar di samping meja tempat dia menulis yang di sediakan oleh ibu kos. Atau lebih seringnya dia duduk terpaku di depan meja tanpa melakukan apa-apa. Maksud ku dia termenung atau lebih tepatnya bermimpi.

Buku-buku bekas dia baca, atau kadang hanya untuk dibuka-buka dan dibolak-balik saja, tercecer di atas meja satu-satunya itu, menemani seongngok nasi basi di dalam piring, sebagian buku-buku itu masih terbuka. Nampak nya dia lupa atau bahkan malas untuk sekedar menutupnya.

Sebagian lainnya terdampar di atas tempa tidur setalah menemani Salim yang mendadak punya masalah insomnia ahir-ahir ini. Buku-buku itu melengkapi sprei yang entah kapan terahir dicuci dan dibiarkan pula acak-acakan.

Guling yang tak bedosa merana di lantai yang belum sempat disapu dan si bantal yang jelas tidak wangi itu terjuntai hampir jatuh kelantai di bagian belakang kasur tempat tidur Salam.

Kekacauan tidak sampai di situ. Sepasang sepatu bekas pakai tadi siang terdampar tak beraturan dekat pintu masuh. Kaus kaki, yang untungnya tidak kelihatan kotor karena warnanya gelap, terjejal di dalam sepatu kanan. Dan yang satunya lagi terjengkang sekitar setangah dari sarangnya, sepatu satunya lagi.

Sebuah gambaran ketidaksempurnaan yang sempurna. Apa yang sedang terjadi dengan Salam? Apa dia terlilit hutang dan tak bisa bayar sehingga menjadi stress? Tidak.

Apa perusahaannya bangkrut? Jangankan perusahaan, selama ini dia mendatangi perusahaan ke perusahaan hanya untuk megais rejeki sekedarnya.

Atau jangan-jangan, dia gila? Benar sejak kurang lebih dua bulan yang lalu dia menjadi gila.

Gila? Ya, gila. Aku akan terkejut kalau anda terkejut. Makanya, tidak usah terkejut. Kata gila adalah kosa kata yang tidak asing ditelinga kita. Salam bukan satu-satunya. Dia hanya satu dari ribuan atau mungkin jutaan orang gila di planet ini, di negeri ini, atau di kota ini. Saking banyak nya orang gila di republik ini, ada kemungkinan anda adalah salah satunya. Atau mungkin aku! Tidak percaya? Percayalah!

……………….

Coba sekali-sekali perhatikan para konpeni (baca: kapitalis) di negeri ini. Mereka mengekploitasi para romusha (baca: buruh) tak ada habis-habisnya. Para kompeni sudah lama menguras tenaganya, mempersempit waktunya untuk diri sendiri, menggaji mereka jauh dari kelayakan, menunggk pula membayar gaji mereka. Konon ada yang berbulan-bulan. Edan! Eh…Gila!

Ada apa? Perusahaan tidak punya dana, order menurun, resesi ekonomi. Itu lah yang meraka katakan kalau ditanya, ”Kenapa?”. Dan masih ada ribuan alasan lainnya yang mereka bisa lafalkan dengan fasih tanpa cacat sedikit pun ketika mereka mengucapkannya.

Para kompeni itu bukannya tidak peduli dengan nasib romushanya, tapi apa daya mereka pun punya masalah sendiri. Para romusha itu mana mengerti susah nya menjadi kompeni. Bagaimana susahnya mereka menciptakan ladang-ladang (baca: lapangan kerja), yang tentunya untuk kepentingan para romusha.

Di tambah lagi mereka harus mengurus diri sendiri untuk keperluan sandang mereka. Kalo para romusha dengan mudah pergi ke pasar loak atau yang lebih elit, Tanah Abang, untuk keperluan sandang mereka, para kompeni setidaknya harus pergi ke singapura untuk memenuhi kebutukan yang sama. Bukannya tidak mau memakai pakaian in-lander (baca: dalam negri), tapi memang mereka diciptakan berbeda dengan para romusha. Pakaian in-lander membuat kulit mereka gatal-galal, bahkan ada yang memerah dan membengkak setelah memekai pakaian in-lander.

Belum lagi kalau waktunya ada pesta orang penggede, baju mereka harus special pake telor. Jangan sampai memalukan di depan orang penggede.Untuk mandapatkan pakaian spesial pake telor itu mungkin mereka harus sampai pergi ke AC Milan negerinya tukang spageti.

Atau ketika musim liburan tiba. Mana bisa mereka cuma bertadang ke rumah Si Amang di Ragunan. Atau ke Taman Mini yang sebetulnya tidak mini itu. Itu kan tempat-tempat liburannya para romusha!

Bersilaturahmi dengan Kang Guru (baca:Ausie) atau jalan-jalan di jalan Braga nya Francis (baca: Paris) itu baru tempat liburannya para kompeni. Dengan begitu mereka juga bisa sekalian belanja minyak wangi dan perhiasan atau asesoris buatan luar negeri, gitu loh!. Lumayan kan untuk nampang!

Belum lagi untuk sekolah anak-anak mereka. Mereka harus makan bangku sekolah yang terbuat dari kayu jati Eropa atau setidak nya kayu ekaliptus-nya negri Kang Guru (baca: Australia).

Tidak seperti anah-anak para romusha, mereka di beri bangku sekolah dari bekas kas gula atau telur saja sudah lebih dari cukup. Lha wong mereka itu cuma rayap. Jadi para kompeni harus membantu anak-anak mereka dari mulai berhubungan dengan biro penyedia layanan bagi orang yang mau belejar di negeri orang sampai mempersiapkan tempat tinggal di tempat mereka sekolah.

Tidak ada salahnya kok menyekolahkan anak-anak kompeni itu ke Eropa atau negeri Kang Guru. Nanti juga kalo mereka perutnya sudah penuh dengan serbuk kayu jati eropa dan ekaliptus, kan yang untung para romusha dan rayap-rayap (baca: anak-anak para buruh) nya juga.

Kok Bisa? Ya bisa, lah! Kelak yang bisa menyediakan ladang-ladang bagi mereka siapa? Yang bisa menyediakan gubu-gubuk (baca: Rumah sangat sederhana sekali) siapa? Para kompeni dan anak-anaknya kan?

“Jadi kalau dua tigu bulan, atau bahkan enam bulan gaji  belum dibayar para romusha itu harus mengerti. Jangan karena hal kecil gitu aja protes, unjuk rasa. Itu tindakan yang tidak dewasa., ” kata seorang kompeni pada satu kesempatan.

“Naaaaaah, ngerti kan sekarang? Ternyata para kompeni melekukan semua yang selama ini banyak dicemburui si sosial itu ternyata untuk orang banyak juga”, Dia manambahkan.

Para romusha Cuma bisa mengangguk-ngangguk saja tanpa pernah bisa mengerti. GILA! Siapa yang gila? Ya kompeninya, ya romushanya!

………………………….

Bagaimana pula dengan para pamomg praja (baca:orang-orang pemerintah) dan raja dan pembantunya? juga para wakil wakil wong cilik. Di antara mereka pun ada yang tidak kalah gilanya dari para kompeni dan para romusha.

Coba arahkan pandangan kita pada mulut-mulut mereka sebelum mereka menduduki bangku-bangku empuk mereka.

Ya, benar, mulut-mulut mereka berlumuran madu, gula merah, dan gula pasir. Saking banyaknya, dan karena bercampur dengan air liur mereka yang mendidih, sampai meleleh ke leher, dagu, perut, dan bahkan bawah perut mereka.

Tapi adakah yang bisa melihat tetesan bisa ular mereka yang keluar dari dua taring mereka. Tidak! Kenapa? Karena mereka menahan diri untuk tidak menyeringai. Mereka hanya melakukan satu hal dengan mulutnya, tersenyum, dan menaburi nya dengan madu, gula pasir, dan gula merah.

Perhatikan pula kedua tangan mereka. Beraneka buah-buahan bergelayut di kedua tangan mereka. Ada rambutan, mangga, pisang, jambu, dan kawan-kawannya. Persis seperti di Pasar Minggu. Benar-benar mengundang selera orang yang kehausan dan kepanasan.

Asiknya lagi, siapa pun boleh mengambil buah-buahan itu dan memakannya sampai puas. Jangan takut kehabisan, masih akan tumbuh lagi begitu buah-buahan nya hampir habis.

Tapi apa ada yang tahu bahwa sebagian buah-buahan itu ternyata beracun ganas? Tidak ada. Setiap orang yang menyantapnya tidak merasakan apa-apa.

Ingin membuktikan bisa ular dan buah-buahan beracun mereka? Tunggu sampai mereka duduk di bangku-bangku empuk mereka. Ketika waktu itu datang mereka akan menjelma menjadi mahluk besar dan menakutkan. Betapa tidak. Berkepala ular, berbadan babi, dan berekor kalejengking.

Dan tentu saja keadaan ini sangat berbahaya karena tidak ada lagi madu dan gula dari mulut mereka. Yang ada hanyalah bisa yang memetikan. Tidak ada lagi buah-buah segar yang ditawarkan. Yang tersisa hanyalah racun ganas yang bisa mambuat binasa.

Apa itu tidak gila? Tidak, itu SANGAT GILA! Bagaimana dengan rakyat negeri ini? Apa mereka terhindarkan dari keGILAan ini? Mereka, termasuk kita juga, termasuk orang gila kalau tidak menyadari kegilaan-kegilaan yang telah, sedang, dan akan terjadi ini.

………………………….

Ahir-ahir ini sebuah peristiwa gempa menguncang sebuah kota kecil di Sidoarjo, Jawa Timur. Guncangannya merambat ke kota-kota sekitarnya, bahkan sampai meliputi seantero bumi nusantara tercinta ini.

Menurut berita yang dibawa si  Konon, orang-orang dari negeri jiran pun banyak yang merasakan getarannya, bahkan ada yang terguncang. Dahsyat bener tuh gempa yah!

Berapa skala richter kah kekuatannya. Entah lah, yang jelas gempa berkekuatan delapan skala richter saja bisa meluluh lantakan beberapa kota. Kalau yang di sidoarjo dampaknya super dahsyat sekali. Mungkin 20, 30, atau 70 skalah richter lah paling tidak. Mulai ngaco lagi, deh! Gila!

Ya lagi-lagi gila. Dengan adanya guncangan maha hebat ini, orang-orang bukannya mendatangi pos pengungsian dan minta sumbangan, tapi meraka malah mendatangi sumber gempa.

Tidak kurang, setidaknya, ratausan, ribuan, malah mungkin ratusan ribu, kalau tidak jutaan, orang berbondong-bondong manjambangi episentrum gempa ”sekedar” untuk ngalap air keramat yang keluar dari sember gempa. Kata si konon, air itu bisa menyembuhkan stroke, jatungan, panu, kadas, kurap, cacingan, dan berbagai macan penyakit lainnya yang biasa mendatangi orang tanpa permisi dan tidak pilih bulu.

Apa khasiatnya sudah terbukti? Lagi-lagi menurut cerita si konon, mereka yang pernah mencoba ada yang mengaku sembuh, tapi ada pula yang tidak, bahkan penyakitnya bertambah parah sampai-sampai harus digotong ke Tabib. Dan sebagian lainnya mengaku tidak ad hasiat apa-apa tuh air. Nggak ngaruh tuh!

Kegilaan lain dari gempa ini adalah beberapa orang sudah menjadi wadal alias dijemput Malaikat Izroil. Apakah adanya wadal mencegah orang-orang meluruk sumber gempa? Tidak tuh! Malah menurut laporan si konon antrian semakin panjang hampir menyentuh perbatasan kota tetangga.

Banyak orang yang menjadi korban (baca: gila) karena gempa ini. Mulai dari pemangku pamong praja, yuang sebagian memang kadung gila, polisi kota praja, dan penduduk di sekitar pusat peristiwa, dan tentunya orang-orang yang susah payah dan mengabaikan pemikiran warasnya mendatangi sumber gempa untuk mendapatkan air keramat.

Mereka yang sempat ke sana tapi tidak sempat mendapatkan air keramat juga jadi gila. Sampeyan yang nyesel karena tidak sempat atau tidak bisa kesana tapi sebenarnya berharap mendapatlkan air ajaib itu juga termasuk gila. Kayaknya aku pun gila karena menulis hal gila ini. Gila!

Bagaimana pula dengan Po’Nori? Apa dia termasuk orang gila? Walau pun ulah nya kadang-kadang gila, tapi dia satu-satunya yang bisa dipastikan yang paling waras. Dia tidak salah apa-apa kok! Siapa suruh orang-orang itu berbondong-bondong ke Sidoarjo Cuma untuk mendapat kan air keramat atau air ajaib?

Po’Nori tenang-tenang saja, toh! Dia asik saja ngelawak sama Malih Tong-tong dan Bolot. Bahkan dia sedang merintis usaha baru yang tidak ada kaitannya dengan ngelawak dan ngebodor. Dia, bekerja sama dengan sebuah produsen pangan nasional, memprodusi air minum mineral bermerek Po’Nori Sweat. Tentu saja dia mendapat kan kontrak dan royalty yang tidak Cuma satu dua rupiah saja. Dia sangat waras, toh?

Tapi yang lebih hebat (baca: gila) nya,  setelah fenomena air keramat sidoarjo, bermunculan lah gempa-gempa baru serupa, walau pun dampak nya tidah sedahsyat gempa bumu sidoarjo.

Ada ubin panas, kerikil jalan ajaib, dukun wanita cilik ghoib, dan teman temannya. Sampai-sampai si Temon temen nya si Andel sempat mengaku-ngaku mampu mengobati segala jenis penyakit hanya dengan air yang dicelupi batu bekas bangun rumah tetangganya. BBG, alias Benar Benar Gila!

…………………………..

Benar! Aku semakin yakin kalau aku sudah gila, sampai-sampai ngelantur hampir kehilangan jalan cerita. Mari kita kembali ke jalan yang benar, cerita tentang Salam.

Apa gerangan yang telah membuatnya gila? Maaf, pertanyaannya kurang tepat. Siapa gerangan yang telah membuat salam gila?

Tini. Dia telah menyentet salam sehingga dia menjadi gila. Tini? Apa dia seorang dukun santet?

Jangan sembarangan. Dia mempu menyantet salam, walau pun tidak sengaja, karena dia cantik, pintar, lemah lembut, dan yang paling penting, senyumannya aduhai.

Gila! Apa para pembaca yakin belum merasa gila? Jadi bagaimana dia bisa manyantet salam. Jadi, dengan kelebihan yang dimilikinya itu, Tini mampu menyantet cinta salam. Dan salah Salam sendiri kenapa dia mau disantet cinta oleh Tini. ”Oooooooh…. Jadi dia disantet cinta”, kata si Adul sambih manggut-manggut. ”Uhuuuuuy….!”, kata Si Komeng.

Jadi sebetulnya masalah ini solusinya gampang saja, toh. Solusi itu apa sih? Apa sama dengan polisi? Semakin ngaco saja!

Sebagai penyantet salam dengan cintanya, Tini harus bertanggung jawab. Dia harus bersedia balik disantet salim. Maunya sih begitu. Tapi masalahnya, selain menyantet salim. Tini juga sudah duluan menyantet Rahman. Dan mereka sudah saling menyentet cinta. Walaupun kadang Tini merasa bahwa santetanRahman tidak membuat dia nyaman, tapi agak susah juga dia melepaskan santetan cintanya.

Tidak jarang pula Tini berfikir untuk membiarkan dirinya disantet cintanya salam. Sebetulnya, belum disantet saja Tini merasa nyaman kalo lagi berduaan sama Salam. Tapi kalo dia berfikir lagi, kayaknya tidak mungkin satu perawan di santet cinta dua perjaka.

Jadi bagaimana? Sekuat tenaga Tini sudah mencoba untuk melepas santetan Rahman agar bisa membiarkan salam menyantet dia. Tapi semakin kuat Tini berusaha semakin kuat pula Rahman mengirim energi santet cintanya untuk Tini. Alhasil tidak ada hasil nya usaha Tini. Maka Salam lah yang jadi korban, dan menjadi gila.

Dia belum punya kesempatan merealisasikan impiannya untuk benar-benar menyantet Tini dengan cintanya. Salam tidak sendirian dalam menjadi orang gila. Tini pun sebenarnya sudah gila karena sudah tak tahan lagi dengan Rahman, dan mendambakan santetan salam.

Bagaimana dengan Rahman? Untuk jaka yang satu ini aku tak dapat informasi apa-apa karena suaranya nyaris tak terdengar! Aku hanya bisa menduga duga kalau dia juga gila karena Tini berani-beraninya menyantet lelakilain dengan cintanya, padahal dia sudah nyantet dirinya dan pernah bilang kalau dia rela di santen sama Toni.Rahman. Namanya juga dunia gila, ya orang-orang nya juga harus gila.

………………………………………………………………………………….

TTD

POGI (Paguyuban Orang-orang Gila Indonesia)

Customer is a King. Is it true?

www.miftah17.wordpress.com

“Every customer is a king”. That’s what we often hear in our country when we talk about business. But in reality, is it true that you are always treated as a king as a customer? Do they always consider you important element in their business? Some good business organizations might have trained their customer service, sales people, and other people dealing with customers well, as a result they can deal with them well, and most customers are made satisfied with their personality, and, most importantly, their service. May be true, may be not very true.

There are a lot of example about dissatisfied customer. How much time does it take to be a phone cell postpaid customer? Few minutes. Then how much time and energy does it take to deal with the overcharged bills of a postpaid cell phone or other problem? Forever and unlimited. What do most companies’ customer service officers say to deal with your complains? They say, “We’ll do something with your problem and we’ll call you in few days time. After few days? They barely call you. After weeks? They seem to have got amnesia.

Actually there are still a lot more unsatisfying problem-dealing cases. But let’s stop here. I don’t think I have enough energy to write about the matter. I’m going to tell and show you something that you might want to know. I was in the mall. I wanted to have some pictures printed since I can’t do it myself at home. I was walking to a counter offering picture printing. Look I was getting close…

selamat-datang-pelanggan-bodoh

There was something stuck on the machine that draw my attention. Now I was getting even closer…

selamat-datang-pelanggan-bodoh2

A notice… yes it was a notice. the big letters were very clear. It said, “Stupid”. “Who is or are  stupid?’, I asked myself a question. Let me find out! And now I was there…

selamat-datang-pelanggan-bodoh3

It was very clear in front of my very eyes. It said (translation), “Don’t play with the machine! You can break it, STUPID!!!”.

What a beautiful welcome for coming customers it was. What will your reaction be at first place if you come to this kind of business place seeing the notice? Will you pretend not to see the notice and go on using their service because it doesn’t bother you at all? Or will your head get warmer and say something rather angrily to the shop assistant to do something with the notice? Or will you be too astonished to react and you turn to a statue for a few seconds? I don’t know, but are these business people happy to make money from these stupid customers? What did they have in their head? Should we change the proverb every customer is a king into every customer is stupid, stupid to use their service. Wallohu alam bissawab (No one knows but God).

…………………………..

Note: I found this “beautiful” display in Mall Cijantung Jakarta Timur. I hope they have done something with it and stopped telling people that they were, in fact, very undeniably stupid!

Si Hitam Yang Buruk Rupa (Ugly Dekil-ing)

www.miftah17.wordpress.com

Si Hitam, si Tampan dan si Cantik

Si Hitam, si Tampan dan si Cantik

Aku terlahir dengan lahiriyah tidak sempurna. Maksudnya, aku memiliki semua bagian-bagian tubuh sempurna dan tidak ada yang cacat, tapi kulit ku tidak lah seterang saudara-saudara ku, dan tampang ku tidak seelok mereka.

Gigiku yang tidak beraturan menambah sempurna nilai keburukan rupa ku. Si Hitam! Begitulah aku dipanggil oleh saudara-saudara ku yang sacara biologis memiliki darah yang sama. Tapi itu tadi, ada hal yang membuat ku special, atau lebih tepatnya, lebih buruk dari mereka.

Si Hitam. Panggilan itu selalu terdengar di telingaku hampir setiap hari, terutama ketika mereka kesal atau marah terhadapku, atau ketika aku berbuat salah. Atau kata-kata menyakitkan itu sering kali hinggap di telingaku ketika aku tidak merasa melakukan salah. Sakit rasanya hati ini dipanggil seperti itu, walaupun memang kenyataannya seperti itu.

Tapi, Adakah orang pincang senang di panggil Si Pincang? Atau Adakah orang sumbing berterimakasih dipangil Si Sumbing? adakah pula orang gila yang tersenyum karena dipangil Si Gila? Untuk yang terakhir mungkin jawabannya “ada’. Tapi aku kan bukan orang gila.

Tuhan mentakdirkan kita hadir di dunia ini dengan keragaman. Orang tampan tidak meminta dilahirkan tampan. Orang buruk rupa tidak memohon terlahir demikian.

Adakah Tuhan tidak adil? Mana sifat Maha pengasih penyayang Mu? Mengapa Kau biarkan orang-orang itu menghinaku? Naudzubillah himindzalik! Hilangkan fikiran seperti itu dari otak kita. Dia maha tahu mengapa Dia menjadikan kita berbeda dari yang lain.

Mungkin aku dilahirkan begini karena Dia juga menganugerahi ku dengan kekuatan, kesabaran, kebesaran hati, atau apalah namanya.

Mungkin benar demikian. Tapi apa dayaku. Aku tidak mengetahui hal-hal seperti itu. Aku hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.

Hanya rasa sakit belaka yang aku rasakan ketika telingaku menangkap panggilan “Si Hitam”. Darah ku mengelegak sampai ke ubun-ubun. Lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa karena kalau aku membalas, kata-kata yang lebih menyakitkan akan keluar dari mulut mereka.

Maka aku hanya bisa diam. Ya, diam. Aku bersikap seolah-olah aku tiada terpengaruh oleh kata-kata meraka. Kalau mereka sudah memuntahkan semua sampah dari mulutnya mereka akan berhenti sendiri.

Ini kadang behasil tapi sering kali tidak. Kalau ini terjadi akan bertengkarlah aku dengan salah satu dari mereka, atau beberapa dari mereka.

Hasilnya? Mudah ditebak. Aku jadi tertuduh, terdakwa, bahkan terhukum karena dakwaan yang tidak benar yang didukung oleh kesaksian palsu Para saksi. Dan orang tua ku sabagai hakim biasanya tidak berfihak terhadapku yang notabene di fihak yang “benar”. Mereka dengan gampang menghukum ku dengan cara mengatakan bahwa aku salah dan mereka benar.

Tubuh ku memang tidak dihukum deraan dan kurungan tapi sisksaan psikologis itu sungguh menyayat-nyayat hati dan perasaan ku. Dan mereka tidak bereaksi apa-apa ketika saudara-saudara ku menghardik ku dengan kata “Si Hitam”. Seakan akan orangtua ku mengiyakan,

“memang kamu hitam kok. Mau apa lagi. Kalau sudah hitam dan jelek tetap saja hitam jelek. Gak usah marah kalau orang mengataimu seperti itu.” Memang kata-kata itu tidak meluncur dari mulut orang tua ku tapi yang diperbuatnya aku arti kan seperti itu.

Mungkin ada benarnya kata sebuah hasil penelitian di Amerika yang mandapati bahwa mahasiswa yang cantik dan tampan lebih cenderung mandapat nilai yang lebih baik dari para dosen dabanding para mahasiswa yang tidak seberuntung mereka yang memiliki wajah dan tubuh nan elok walau pun secara akademik sicantik dan tampan itu tidak sebagus si buruk rupa.

Itu kan penelitian di Amerika sana. Kalau di Republik tercinta ini tidak mungkin. Tidak mungkin apa? Ya tidak mungkin berbeda lah!

Sudah lah aku tidak membahas tentang hasil penelitian dibandingkan kenyatan di negeri. Kalau kena somasi dan dituntut jutaan rupiah kan repot.

Yang ingin saya ungkapkan adalah penelitian itu tercermin di keluarga ku. Sebagai dosen (banca: orang tua) mereka selalu memberikan nilai (baca: pembelaan) yang sempurna pada saudara-saudara ku dan tentu saja untuk ku alakadarnya saja. Itu pun kalau masih ada yang tersisa.

Tidak berhenti di situ. Aku punya banyak bibi dan paman. Mereka kadang bertandang ke rumah kami. Mereka baik-baik tapi tentu saja aku bukan lah pemandangan yang menyita perhatian mereka. Ada adik ku yang lebih tampan yang jauh lebih menarik dari ku. Dan ada kakak ku yang pandai bicara dan berkelakar.

Bagaimana dengan aku? Kalau mereka datang ke rumah kami, aku biasanya menyembunyikan diri dari tatapan mereka. Aku terlalu malu untuk manampakan wajah buruk dan kulit legam ku ini. Biasanya aku pura pura tidur di kamar belakang atau pergi bermain dengan teman-teman tetanggaku.

Aku beruntung teman-temanku tidak sejahat saudara-saudaraku. Aku merasa senang hanya ketika aku bersama mereka. Kami bisa bermain seharian ke sawah main perang-perangan atau membuat peluit dari batang padi, atau ke kebun ubi dan singkong sekedar mencicipi (baca: mencuri) hasil kerja para penggarap ladang.

Keluarga kami pun kadang menjambangi paman-paman dan bibi-bibi ku. Tapi aku hamper tak pernah diajak. Mungkin mereka terlalu malu dibarengi anak atau adik buruk rupa. Hasilnya sampai sekarang aku tidak punya alas an yang cukup untuk datang ke tempat mereka.

Keluarga ku memiliki koleksi foto keluarga yang diabadikan di sekitar rumah, di tempat handai taulan, dan di tempat rekreasi. Gambarku cukup dihitung dengan sebelah tangan karena jumlah nya tidak melebihi jari-jari satu tangan saja.

Ada beberapa alasan. Pertama, aku tidak diikutsertakan dalam perjalanan keluarga. ke dua, aku sering tidak ada di rumah karena bermain dengan tetanggaku. Aku lakukan itu untuk menghindari cacian dan kata-kata menyakitkan dari saudara-saudaraku. Dan ketiga, wajah ku di foto akan mempertegas keburukan tampang dan kelegaman kulitku.

Diambil dari sudut manapun aku adalah Si Hitam yang buruk rupa. Foto ku yang diambil ketika aku di sunat sering kali menjadi bulan-bulanan saudara-saudaraku terhadapku. Betapa tidak, si Hitam yang kerdil itu sedang menyeringai Manahan rasa sakit. Jelas sekali gigi yang jelas jelas tidak bisa dikatakan rata, dan hitam-hitam itu menambah kredit keburukan ku.

Karena sering nya saudara-saudara ku menghinaku dengan memperbincangkan foto ku itu aku jadi tidak tahan. Habis sudah kesabaran itu. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa mambalas. Mereka terlalu sempurna untuk dicari kekurangannya.

Pada suatu hari ketika di rumah sedang sepi, diam diam aku buka album foto itu dan ku ambil foto sunatan ku yang selanjutnya ku bawa lari kebelakang rumah.

Di belakang rumah ku perhatika foto itu. Mereka benar tentang semuanya. Tidak ada satu pun yang bagus dari gambar itu. Aku benci wajah buruk ku itu.

Tahu-tahu air hangat sudah meleleh di pipiku. Rasa benciku terus bertambah. Dan aku mulai merobek-robek foto itu menjadi potongan potongan kecil, ku campakkan di tanah dan ku keluarkan pemantik dari kantong celanaku yang mulai robek-robek ini.

Hati ku terbakar dahsyat seiring dengan terbakarnya sobekan foto ku. Tidak seharusnya aku membakar foto diriku sendiri. Tapi apa daya, rasa sakit karena kata-kata menghina itu terlalu menyakitkan. Mungkin dengan tidak adanya foto itu hinaan yang sering menghantam gendang-gendang telingaku itu akan sedikit berkurang.

Aku tidak berharap lebih dari itu karena tidak mungkin hinaan itu menghilang sama sekali, kecuali mungkin kalau aku menjalani operasi plastik. Itu pun kalau operasi plastik total. Dari mana pula aku mampu mengumpulkan plastik kualitas tinggi dan mambayar dokter bedah plastik untuk manjalani operasiku itu?

Pernah suatu sore musim kemarau aku sedang bermain di sawah yang habis dipanen dengan teman-teman ku. Tentu saja yang namanya main di sawah, kami main kejar-kejaran dan perang perangan. Tubuh kami bersimbah peluh, dan pastinya bau dan kotor. Ketika sedang asik menikmati bermain kami.

Teman ku memberi tahuku tentang kakak ipar ku, yang bekerja di Jakarta dan sedang pulang menemui anak dan istrinya di kampung, adik ku, kakak-kakak ku, dan beberapa anak tetanga di samping rumah ku sedang berjalan-jalan sore.

Nampak oleh ku kakak ipar ku menenteng kamera yang baru dia belinya. Nampak nya mereka bejalan jalan sambil berfoto-foto. Mereka nampak berpakaian rapi dan bagus. Tentu saja begitu karena waktu itu berfoto bukan lah sesuatu yang biasa, boleh dikata kamera adalah barang yang mahal, tidak banyak orang yang memiliki, jauh berbeda dengan sekarang hampir semua orang memiliki kamera, setidaknya ada dalam hand phone mereka.

Dugh…! Ada sesuatu yang meninju di dalam dada ku. Betapa tidak anak-anak tetanggaku saja dia ajak, sedangkan aku yang adik istrinya tidak. Sekarang meraka sedang berjalan tidak jauh dari kami yang sedang bermain di kotakan sawah. Aku berharap dipanggil untuk ikut difoto-foto. Mereka semakin mendekat…Melewati kami… dan… berlalu. Tidak ada pangilan yang kuharapkan itu.

Sebenarnya aku tidak peduli akan kegiatan berfoto-foto mereka. Tidak ada keinginan ku untuk ikut berfoto bersama meraka. Aku yakin kalau itu terjadi aku akan menjadi pemandangan aneh ketika foto itu sudah tercetak.

Bayangkan, Si Hitam kerdil dan kucel, kotor dan bau ada di antara anak-anak yang bersih dan rapi. Akan bertambah lah bahan untuk mereka jadikan alat menghinaku. Yang ku inginkan adalah pengakuan, bahwa aku adalah bagian dari mereka. Bila itu mereka lakukan, dengan mengajak ku pergi berjalan-jalan bersama mereka, dan pasti akan ku tolak dengan mengemukan alasan-alasan, aku akan merasa dihargai sebagai manusia.

Tapi pemandangan yang ku tangkap adalah sikap penyesalan mengapa mereka harus bertemu aku di tempat itu. Mereka hanya berlalu dan menoleh ku sebentar seperti melihat seekor kucing buduk yang menjijikan.

Mereka sudah menghilang di seberang sungai setelah menyeberangi jembatan batang pohon kelapa. Aku mangajak teman ku melanjutkan bermain kejar-kejaran dengan tidak menghiraukan pertanyaan mereka mengapa aku tidak ikut saudara-saudaraku dan tetanggaku itu dan ikut berfoto-foto.

Aku sekarang sudah bergumul lagi dengan teman-temanku di atas tumpukan jerami. Aku tertawa-tawa dengan mereka dan menikmati sore yang cerah itu. Gatal-gatal di badan tidak dirasa. Semuanya normal seolah tidak terjadi yang aneh.

Sedang dalam hati bergemuruh api kemarahan, kesedihan, dan kebencian. Marah dan sedih karena aku tidak dapat pengakuan dalam keluarga ku. Dan benci terhadap diriku sendiri mengapa aku menjadi mahluk yang begitu buruk rupa sampai-sampai kelurga ku pun tidak sudi menyertakan aku dalam kegembiraan mereka.

Terkadang aku berfikir untuk mati saja. Ya, kematian mungkin akan meyelesaikan penghinaan ini. Mungkin aku akan pergi ke alam lain dan dijadikan orang atau mahluk yang tampan oleh Tuhan sehingga tidak akan ada yang menghinaku lagi.

Tapi bagaimana caranya supaya aku bisa mati. Kata orang kematian itu maenyakitkan. Teriakan orang yang sakaratul maut itu bisa terdengar sampai kelangit ke tujuh.

Manahan rasa sakit akibat penghinaan saja aku sudah tak tahan, apalagi kalau menghadapi kematian. Tak sanggup aku menghadapi hal terburuk seperti itu. Terlalu pengecut aku untuk berhadapan dengan malakal maut.

Dan apa pula jadi nya ketika aku berhasil bunuh diri, ternyata Tuhan menjadikann aku mahluk yang lebih buruk. Jadi tikus got, jadi kecoa, jadi…babi hutan.

Ah lebih baik ku pendam saja keinginan ku untuk mati dalam-dalam, atau ku buang saja jauh-jauh.

Biarkan lah sungai itu terus mengalir karena akhirnya akan berakhir di muara juga.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.